Koperasi dan UKM Didorong Membangun Kemitraan

Koperasi dan UMKM di wilayah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen (Barlingmascakeb) perlu didorong membangun kemitraan yang saling menguntungkan dengan berbagai pihak.

Kemitraan ini untuk meningkatkan kualitas barang atau mengurangi biaya produksi. Mitra yang paling banyak adalah dalam penjualan. Kemitraan yang disertai dengan pembinaan terhadap pelaku usaha besar dan menengah berlaku umum dengan memperhatikan prinsip saling membutuhkan memperkuat dan saling menguntungkan.

Hal itu dikatakan Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI, Victoria br Simanungkalit saat membuka acara bimbingan teknis peningkatan kapasitas usaha koperasi/sentra usaha mikro di bidang industri gula semut melalui kemitraan di Purwokerto, Selasa (12/3) sore.

Menurut dia, kemitraan antara UMK, pelaku usaha menengah dan besar, mutlak perlu dilakukan dalam rangka mewujudkan tujuan pengembangan UMKM dalam mencapai keberhasilan dan persaingan, baik di pasar domestik mau pun pasar global akan lebih mudah diwujudkan.

Khusus pasar global, sambung dia, memerlukan mitra yang kuat agar dapat menembus pasar dunia. “Kami berharap setelah mengikuti bimtek ini, diharapkan bisa menjawab tantangan dari pasar yang masih terbuka untuk produk gula semut baik nasional maupun global. Semuanya kembali kepada kita, apakah kita mau mengambil kesempatan dan peluang tersebut atau tidak,” katanya.

Dia menjelaskan, beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pasar global secara umum diantaranya, diversifikasi produk olahan, apakah dalam bentuk penambahan rasa atau olahan lainnya, kemudian ada peluang untuk memasarkan produk gula semut cair disamping gula semut kristal.

Di samping itu, membangun basis produksi yang baik melalui jaringan sehingga dapat saling bertukar informasi dan
menghindari kemungkinan pembeli mengambil kesempatém dari persaingan tidak sehat.

“Harus cerdas memberikan layanan berbeda untuk tipe konsumen yang berbeda. Konsumen perorangan dan konsumen untuk pengolahan lebih lanjut atau konsumen produsen,” katanya, menjelaskan.

Dia juga menegaskan, bahwa pengemasan merupakan faktor kunci agar produk sampai di tangan konsumen dalam kondisi baik. Kemasan juga menjadi faktor penting bagi pembeli, jadi harus dibuat menarik khususnya untuk konsumen perorangan.

“Tidak harus mengikuti mainstream, tapi bisa juga ditambahkan unsur etnik,” imbuh dia.

Memperkuat Citra

Koperasi dan UMKM juga perlu memperkuat citra bahwa gula semut yang berasal dari wilayah Banyumas dan sekitarnya adalah produk berkualitas tinggi. Banyumas dan sekitarnya menjadi jaminan mutu bahwa gula semutnya pasti berkualitas baik.

Itulah yang disebut juga branding. Pembuatan branding yang kuat harus disertai promosi. Promosi yang cukup efektif adalah hadir di semua kegiatan pameran yang strategis, serta membangun jaringan pemasaran.

“Kita menginginkan koperasi dan UMKM dapat bertahan dan tumbuh menjadi sebuah usaha atau badan usaha yang kuat dan bisa bersaing,” kata Victoria.

Apalagi, di wilayah Barlingmascakeb ada potensi gula semut sebagai sumber pendapatan untuk menaikkan kualitas hidup masyarakat sekitar. Nira kelapa dan aren diolah menjadi gula semut.

Menurut data yang ia terima, di Kabupaten Banyumas memiliki luas lahan tanaman kelapa sebanyak 300.000 batang dengan luas lahan 17.000 hektare. Produksi gula semut 500 ton per bulan dan yang di ekspor 400 ton per bulan dengan jumlah perajin gula semut 8.000 orang.